Cerita Hot Terpanas

Kamis, 19 April 2018

Cerita Hot Bersama Adik Majikanku Sendiri

April 19, 2018
Cerita Hot Bersama Adik Majikanku Sendiri
CeritaHotTerpanass - Namaku Merry, aku bekerja di Jakarta sebagai seorang pembantu rumah tangga merangkap baby-sister. Majikanku sepasang suami-istri yang baru punya anak satu yang masih bayi. Tinggal bersama mereka adalah adik mereka yang sudah lulus kuliah dan baru mulai bekerja, namanya Reno. Aku memanggilnya Mas Reno.


Saat ini majikanku dengan bayinya sedang liburan ke Singapura, tentu saja aku tidak diajak, aku sendirian di rumah. Ketika hari senja, Mas Reno pulang dari kerja dengan sepeda motornya. Mas Reno baik sekali padaku, sangat sopan dan ramah.

Semenjak kami tinggal berdua saja, setiap pulang kerja Mas Reno selalu membawakan oleh-oleh berupa jajanan dan diberikan padaku. ya martabak manis, ya kue donat, tiap hari selalu berbeda.

“Mbak Merry, ini untuk mbak…” kata Mas Reno sambil tersenyum manis.
“Makasih Mas…, kok tiap hari dibawain oleh-oleh?”, aku tersipu malu…
“Kasihan sama mbak, pagi sampai sore kan sendirian di rumah.”, Mas Reno meraih handuknya dan pergi mandi.

Ketika sudah jam 7 malam selesai makan, kami berdua duduk di ruang keluarga sambil nonton TV. Jam 10 malam, Mas Reno masuk kamarnya dan tidur.

Ini telah berlangsung dua hari…. Aku semakin tertarik atau mungkin sudah “jatuh cinta” kepada kebaikan dan kelembutan Mas Reno.

Di malam ke 3, Mas Reno mulai menunjukkan kasih sayangnya kepadaku. Dia duduk dekat di sampingku, hatiku berdesir kencang, dia memegang tanganku dengan lembut.

“Mbak Merry, aku jatuh cinta sama kamu, kamu begitu cantik, halus dan sopan kepadaku.” Wajahku merah padam, aku tertunduk malu..
“Mas Reno, saya nggak berani menerima cinta Mas, saya cuma perempuan desa…”

Dia duduk semakin rapat denganku, diraihnya daguku, dipeluknya aku dan diciumnya bibirku. Aku tak bisa menolak pelukan dan ciumannya yang mesra. Cuma berlangsung sebentar, mungkin dua menit…. Tapi telah membuatku mabuk kepayang.

“Makasih ya mbak…, telah menyambut ciuman kasih sayangku”, bisiknya lembut…

Aku tersipu malu… tak kuasa mengucapkan sepatah katapun. Cuma anggukan yang sangat kikuk…

“Merry takut?” tanyanya lagi.
“Ya Mas, mana mungkin Merry bisa membalas cinta Mas yang begitu anggun?”
“Jangan bilang begitu, kita kan sama-sama manusia, tidak ada kasta-kastaan… masa’ nggak boleh saling jatuh cinta?”
“Mas, Merry mau tidur dulu…”, aku segera bangkit dan beranjak ke kamarku, Mas Reno ikut berdiri dan menggandeng tanganku, ikut aku masuk ke kamarku.

Di depan pintu kamarku, ia mendekapku lagi dan mencium bibirku. Kali ini lebih “hot” dari yang pertama, lumatannya seperti hendak menelan seluruh mulutku, lidahnya dimainkannya di bawah langit-langit mulutku, membuat darah mudaku mendesir ke seluruh ujung-ujung sarafku dan membangkitkan gairahku.

Dia merangkulkan tangan kirinya di leherku, dan aku merangkulkan kedua tanganku di pinggangnya.

Kali ini bibirnya mulai lepas dari bibirku dan menjelajahi leherku dan belakang telingaku, sehingga membuatku semakin “lupa daratan”. Aku mulai mendesah manja. Dia tetap sopan dan tidak meraba-raba ke bagian tubuhku yang lebih sensitif…

“Merry, aku cinta sama kamu,” bisiknya di daun telingaku….
“Mas Reno, Merry juga sayang sama Mas….”

Dia mulai menggiringku ke pinggir tempat tidurku, dan aku mulai pasrah saja… sambil tangannya meraih skaklar lampu kamarku untuk mematikanya.

Dalam keadaan gelap, aku semakin tak kuasa menahan diri… ingin rasanya aku serahkan jiwa ragaku kepada Mas Reno malam ini, sebagai bukti kecintaanku padanya…

Nafasku makin memburu, desahanku semakin menjadi-jadi. Ini sudah berlangsung hampir 30 menit, CDku mulai terasa agak basah, seluruh rangsangan sudah mulai memuncak di sekujur tubuhku.

Mas Reno mulai menyentuh payudaraku yang masih terbungkus bra.. sentuhannya halus lembut, tapi membuatku seperti melayang-layang… Dia terus melumat bibirku dengan lemah lembut…. Kini ia mulai meremas payudaraku yang kiri dari luar dasterku, jantungku makin berdetak keras, darahku makin mendesir…

“Mas Reno, pelan-pelaaaann…” aku mulai mendesah lemah…

Tangan kanannya mulai menggerayangi punggungku dari bawah pakaianku, dia seperti mencari kaitan bra-ku, dan benar… dia sudah mendapatkannya dan melepas kaitannya. Segera tangannya membuka retsliting belakang dasterku sampai ke bawah dan mulai melepas dasterku. Aku hanya memakai CD sekarang, diremasnya payudaraku yang kanan dengan irama teratur dan memilin-milin putingku yang kiri dengan jempol dan telunjuknya…

“Maassss, Merry nggak tahaaaan..” Dilepasnya kilikannya dan kini dia memelukku erat sambil tangannya membelai rambutku yang panjang terurai… Menenangkan jiwaku yang bergejolak bagai deburan ombak..
“Mas Reno sayang Merry, Merry sayang Mas Reno nggak?”, dibisikkannya kata-kata indah di telingaku… Aku mengangguk spontan..

Hatiku benar-benar terpaut kepada Mas , dalam sepanjang hidupku, aku belum pernah merasakan kasih sayang yang begitu lemah lembut dari seorang laki-laki…

Mas Reno mulai membuka seluruh pakaiannya, dan kini ia dalam keadaaan bugil, tapi aku tak berani melihat kemaluannya, aku merasa sangat malu… Sekarang ia tengkurap di atas tubuhku, kurasakan tonjolan kemaluannya yang menempel di luar CDku begitu besar panjang dan betapa kerasnya.

“Merry mau pegang ‘penis’ Mas Reno?” tanyanya.
“Malu, ah Mas…. Merry belum pernah…”

Tanpa bertanya lagi, ia membimbing tanganku dan membawanya pada penisnya, dimintanya aku menggenggam penisnya tanpa aku berani melihatnya.

Astaga! Besarnya dan panjangnyaaaa, mungkin ada 17 cm….

Ia mulai menurunkan CDku dan ditanggalkannya, sekarang kami sama-sama telanjang bulat…. Mas Reno kembali mengulum puting buah dadaku, puas di kiri pindah ke kanan, kiri lagi, pindah kanan lagi, sambil jari-jari tangannya menyentuh lubang kemaluanku yang sudah mulai becek… Aduuuh, nikmat sekali rasanya….

Kepala Mas Reno kini mulai pindah ke bawah, menciumi pusarku, dan terus turun ke bawah, tepat di depan kemaluanku, kepalanya berhenti, kini lidahnya dijulurkannya, dan mulai menjilati kemaluanku, mulai dari bibir kemaluanku, terus makin ke dalam… Sampai kini di ujung itilku, disapu-sapukannya ujung lidahnya ke ujung itilku….

“Oooooooooohhhh…”, aku meronta kenikmatan….. Halus nian kilikannya pada itilku, tapi stabil dan terus-menerus.

Aku mulai menggelinjang-glinjang…. Kuangkat pinggulku, tak kuat menahan geliiii dan rangsangannya yang sangat kuat…..

“Ooooooohhhhhh……” desahanku semakin keras,
“aduuuh Mas, Merry rasanya pengen pipiiiisssss”, dia tidak menjawab dan terus melakuan sapuan yang semakin mantap pada itilku….

Saking tak tahannya, aku lepaskan air kemaluanku, tapi sangat berbeda dengan kencing, karena ini menimbulkan kenikmatan pada sekujur tubuhku, kukejangkan seluruh tubuhku, dan segera mas Dika memeluk tubuhku lagi…..

“Nikmat, sayang?”, tanyanya… Aku tak sanggup menggambarkan rasa nikmat yang sangat dahsyat itu….
“Nikmaaattttt Maaaaassss….”, itu saja komentarku….

Agen Togel Online Terpercaya - Sekarang Mas Reno mulai mengangkangkan kedua kakiku dengan kakinya, dan perlahan-lahan dituntunnya kemaluannya yang masih keras mendekati pintu lubang kemaluanku…. Aku makin pasrah saja, karena aku masih merasakan kenikmatan yang memuncak tadi…. Kepala kemaluannya mulai sedikit memasuki kemaluanku, aku berpikir sejenak, apa bisa masuk? Apa cukup lubang sekecil kemaluanku dimasuki batang kemaluannya yang begitu panjang dan besar?

“Mas Reno akan masukkan pelan-pelan, supaya Merry tidak kesakitan… Kalau agak sakit, Merry bilang ya.. Mas akan sabar memasukkannya sedikit-sedikit.

Kenikmatannya bisa 10 kali lipat dari kenikmatan yang baru saja Merry rasakan tadi…”, demikian janji Mas Reno…

“Kita pindah ke kamarku aja ya Merry sayang? Di sana sejuk ada AC-nya. Merry mau kan?” tanya mas Reno kekasihku…
Segera diangkatnya aku dengan kedua tangannya dan dibawanya masuk ke kamarnya yang sejuk ber-AC, bibirku tetap dikulumnya dengan kuat..

Direbahkannya aku di tempat tidurnya, dirangsangnya aku lagi melalui ciuman pada bibir, leher, belakang telinga, puting payudara kiri dan kanan…

Kemaluanku sudah mulai basah lagi. Dikangkangkannya sekali lagi kedua kakiku, dan tanpa ragu-ragu ia mulai memasukkan batang kemaluannya sedikit demi sedikit ke lubang kemaluanku…. Aku siap menerima persetubuhan ini dengan penuh cinta kepadanya. Makin dalam dan makin dalam, makin hangat dan makin hangat, makin dalam dan makin dalam lagi, sangat hati-hati dan perlahan-lahan…. sampai semua batang kemaluannya kandas ke dalam lubang kemaluanku. Ia mengambil bantal dan mengganjalkannya pada bokongku, terasa tusukan batang kemaluannya masuk lebih dalam lagi…..

“Gimama Merry sayang? Sakit?” tanyanya lembut penuh kasih sayang…
“Nikmaattt Massss”, jawabku manja….

Kini ia mulai memaju-mundurkan kemaluannya, aduuuh… gesekannya menimbulkan rangsangan yang sangat dahsyat pada dinding dalam lubang kemaluanku… ada rasa geli, ada rasa nyeri, ada rasa nikmat, ada rasa yang sangat memabukkanku…

Semakin lama, kecepatannya semakin bertambah, semakin cepat semakin menimbulkan rangsangan nikmat… aku sudah mulai hampir mencapai puncak lagi… Makin lama makin nikmat, makan lama makin enaaaaakkkkk…..

“Maaaaasssss, Nikmaaaattttttt…. Merry mau keluar lagi….”
“Sebentar lagi ya sayang… Mas juga mau keluaarrr…”

Nafasku semakin tak keruan, Mas Reno semakin mempercepat keluar masuk kemaluannya pada lubang kenikmatanku…

“Massss, Merry keluar lagiiiiii…..” kali ini benar-benar 10 kali lebih nikmat dari sebelumnya…

Mas Reno memasukkan kemaluannya lebih dalam, dan terasa ada semburan keras di dalam lubang kemaluanku…. creeeet, creeeeet, creeeeet…. dan

“Oooooooh, ooooohhh, ooooohhhhh”, segera mas Reno ambruk di atas tubuhku…….

Ia belum juga mencabut penisnya dari lubang memekku… Perlahan-lahan nafas kami berdua mulai berangsur-angsur teratur. Mas Reno kembali memelukku, membelai lembut rambutku, menciumi bibir, kening dan kedua pipiku….

“Puas, sayang?” tanyanya sopan dan halus… Aku mengangguk manja…

Kini ia mulai mencabut penisnya. Malam itu, aku tertidur di kamar Mas Reno, Mas Reno menyelimutiku dengan penuh kasih sayang, memeluk tubuhku dan ia tertidur pula. Kami berdua tidur lelap tanpa berbusana…END.
Read More

Sabtu, 14 April 2018

Cerita Hot Nikmati Tubuh Janda Tanpa Anak

April 14, 2018
Cerita Hot Nikmati Tubuh Janda Tanpa Anak
CeritaHotTerpanass - Tak terasaa Sudah belasan tahun aqu praktek di kawasan kumuh ibu kota, tepatnya di daerah Pelabuhan Rakyat di Jakarta utara. Pasienku bisa dibilang banyak, tetapi pada kenyataannya rata-rata dari kelas menengah ke bawah. Jadi sekalipun sudah belasan tahun aqu berpraktek dgn jumlah pasien lumayan, aqu tetap saja tak berani membina rumah tangga, mungkin karena aqu benar-benar ingin memberi kebahagiaan untuk pasanganku, jika aqu memilikinya kelak, dan dalam pikiranku, kebahagiaan dapat dgn mudah dicapai jika kantongku tebal, simpananku banyak di bank dan rumahku besar.


Tetapi aqu tak sedikitpun mengeluh akan keadaanku ini. Aqu tak berharap membanding-bandingkan keadaanku pada Dr. Sudirman yg ahli bedah, atau Dr. Herianto yg spesialis kandungan, meskipun mereka dulu saat masih sama-sama kuliah di faqultas kedokteran sering aqu bantu dalem menghadapi Test. Mereka adalah bintang kedokteran yg sangat cemerlang di bumi pertiwi, bukan hanya ketenaran nama, juga kekayaan yg terlihat dari Baby Benz, Toyota Land Cruiser, Pondok Indah, Permata Hijau, Bukit Sentul dll.

Dgn pekerjaanku memang melayani masyarakat kelas bawah, yg sangat memerlukan pelayanan kesehatan yg terjangkau, tentu saja aqu memperoleh kepuasan secara batiniah, karena aqu dapat melayani sesama dgn baik. Tetapi, dibalik itu, aqu pun memperoleh kepuasan yg amat sangat di bidang non materi lainnya.

Sampai pada Suatu malam hari, aqu diminta mengunjungi pasien yg katanya sedang sakit parah di rumahnya. Seperti biasa, aqu mengunjunginya sesudah aqu menutup praktek pada sekitar setengah sepuluh malam. Ternyata sakitnya sebenarnya tidaklah parah jika ditinjau dari sudut pandang kedokteran, hanya flu berat disertai kurang darah, jadi dgn suntikan dan obat yg biasa aqu sediakan bagi mereka yg kesusahan memperoleh obat malam malam, si ibu dapat sedikit dilegakan.

Saat aqu mau meninggalkan rumah si ibu, ternyata tanggul di tepi sungai jebol, dan banjir kiriman menerjang, sehingga mobil kijang kotak bututku serta merta terbenam sampai setinggi kurang lebih 50 senti dan mematikan mesin yg sempat hidup sekejap saja. Air di mana-mana, dan aqu pun membantu keluarga si ibu untuk mengungsi ke atas, karena kebetulan rumah petaknya terdiri dari 2 lantai dan di lantai atas ada kamar kecil satu-satunya tempat anak perempuan si ibu tinggal.

Karena tak ada kemungkinan untuk pulang, maka si Ibu menawarkan aqu untuk menginap sampai air surut. Di kamar yg sempit itu, si ibu segera tertidur dgn pulasnya, dan tinggallah aqu berduaan dgn anak si ibu, yg ternyata dalem sinar remang-remang, terlihat manis sekali, maklum, umurnya aqu perkirakan baru sekitar awal dua puluhan.

“Pak dokter, maaf ya, kami tak dapat menyuguhkan apa apa, sepertinya semua perabotan dapur terendam di bawah”, katanya dgn suara yg begitu merdu, sekalipun di luar terdengar hamparan hujan masih mendayu dayu.

“Oh, endak apa-apa kok Dik”, sahutku. Dan untuk menghabiskan waktu, aqu banyak bertanya padanya, yg ternyata berstatus Kirana. Sesuai dengan apa yang ia sampaikan sendiri.

Ternyata Si Kirana ini adalah janda tanpa anak, yg suaminya meninggal karena kecelakaan di laut 2 tahun yg lalu. Karena hanya berdua saja dgn ibunya yg sakit-sakitan, maka Si Kirana sexi ini tetap menKirana. Si Kirana ini sekarang bekerja pada pabrik konveksi pakaian anak-anak, tetapi perusahaan tempatnya bekerja pun terkena dampak krisis ekonomi yg berkepanjangan. Sehingga iapun terkena PHK.

Saat aqu melirik ke jam tanganku, ternyata jam sudah menunjukkan setengah dua dini hari, dan aqu lihat Si Kirana mulai terkantuk-kantuk, maka aqu sarankan dia untuk tidur saja, dan karena sempitnya kamar ini, aqu terpaksa duduk di samping Si Kirana yg mulai merebahkan diri.

Terlihat rambut Si Kirana yg panjang terburai di atas bantal. Dadanya yg membusung terlihat bergerak naik turun dgn teraturnya mengiringi nafasnya. Ketika Si Kirana berbalik tubuh dalem tidurnya, belahan bajunya sedikit tersingkap, sehingga dapat kulihat payudaranya yg montok dgn belahan yg sangat dalem. Pinggangnya yg ramping lebih menonjolkan busungan payudaranya yg terlihat sangat menantang. Aqu coba merebahkan diri di sampingnya dan ternyata Kirana tetap lelap di dalem tidurnya.

Pikiranku menerawang, teringat aqu akan Anita, yg juga mempunyai payudara montok, yg pernah aqu tiduri malam minggu yg lalu, saat aqu melepaskan lelah di panti pijat tradisional yg terdapat banyak di kawasan aqu berpraktek. Tapi Anita ternyata hanya nikmat di pandang, karena permainan seksnya jauh di bawah harapanku. Saat itu aqu hampir-hampir tak dapat pulang berjalan tegak, karena burungku masih tetap keras dan mengacung sesudah ‘selesai’ bergumul dgn Anita. Maklum, aqu tak terpuaskan secara seksual, dan kini, sudah seminggu berlalu, dan aqu masih memendam gairah di antara selangkanganku.

Aqu mencoba meraba payudara Kirana yg begitu menantang, ternyata dia tak memakai breast houlder di bawah bajunya. Teraba puting susunya yg mungil. dan ketika aqu mencoba melepaskan bajunya, ternyata dgn mudah dapat kulaqukan tanpa membuat Kirana terbangun. Aqu dekatkan bibirku ke putingnya yg sebelah kanan, ternyata Kirana tetap tertidur. Aqu mulai merasakan kemaluanku mulai membesar dan sedikit menegang, jadi aqu teruskan permainan bibirku ke puting susu Kirana yg sebelah kiri, dan aqu mulai meremas payudara Kirana yg montok itu. 

Terasa Kirana bergerak di bawah himpitanku, dan terlihat dia terbangun, tetapi aqu segera menyambar bibirnya, agar dia tak menjerit. Aqu lumatkan bibirku ke bibirnya, sembari menjulurkan lidahku ke dalem mulutnya. Terasa sekali Kirana yg semula sedikit tegang, mulai rileks, dan sedikitnya dia menikmati juga permainan bibir dan lidahku, yg disertai dgn remasan gemas pada ke dua payudaranya.

Setalah aqu yakin Kirana tak akan berteriak, aqu alihkan bibirku ke arah bawah, sembari tanganku mencoba menyibakkan roknya agar tanganku dapat meraba kulit pahanya. Ternyata Kirana sangat bekerja sama, dia gerakkan pantatnya sehingga dgn mudah malah aqu dapat menurunkan roknya sekaligus dgn celana dalemnya, dan saat itu kilat di luar membuat sekilas terlihat pangkal paha Kirana yg mulus, dgn rambut kemaluan yg tumbuh lebat di antara pangkal pahanya itu.

Kujulurkan lidahku, kususupi rambut lebat yg tumbuh sampai di tepi bibir besar kemaluannya. Di tengah atas, ternyata clitoris Kirana sudah mulai mengeras, dan aqu jilati sepuas hatiku sampai terasa Kirana sedikit menggerakkan pantatnya, pasti dia menahan gejolak birahinya yg mulai terusik oleh jilatan lidahku itu.

Kirana membiarkan aqu bermain dgn bibirnya, dan terasa tangannya mulai membuka kancing kemejaqu, lalu melepaskan ikat pinggangku dan mencoba melepaskan celanaqu. Sedikitnya Kirana mendapat sedikit kesulitan karena celanaqu terasa sempit disebabkan kemaluanku yg makin membesar dan makin menegang.

Sembari tetap menjilati kemaluannya, aqu membantu Kirana melepaskan celana panjang dan celana dalemku sekaligus, sehingga kini kami sudah bertelanjang bulat, berbaring bersama di lantai kamar, sedangkan ibunya masih nyenyak di atas tempat tidur.

Mata Kirana terlihat sedikit terbelalak saat dia memandang ke arah bawah perutku, yg penuh ditumbuhi oleh rambut kemaluanku yg subur, dan gagang kemaluanku yg sudah membesar penuh dan dalem keadaan tegang, menjulang dgn kepala kemaluanku yg membesar pada ujungnya dan terlihat merah berkilat.

Kutarik kepala Kirana agar mendekat ke kemaluanku, dan kusodorkan kepala kemaluanku ke arah bibirnya yg mungil. Ternyata Kirana tak canggung membuka mulutnya dan mengulum kepala kemaluanku dgn lembutnya. Tangan kanannya mengelus gagang kemaluanku sedangkan tangan kirinya meremas buah kemaluanku. Aqu memajukan pantatku dan gagang kemaluanku makin dalem memasuki mulut Kirana. Kedua tanganku sibuk meremas payudaranya, lalu pantatnya dan juga kemaluannya. Aqu mainkan jariku di clitoris Kirana, yg membuatnya menggelinjang, saat aqu rasakan kemaluan Kirana mulai membasah, aqu tahu, saatnya sudah dekat.

Kulepaskan kemaluanku dari kuluman bibir Kirana, dan kudorong Kirana hingga telentang. Rambut panjangnya kembali terburai di atas bantal. Kirana mulai sedikit merenggangkan kedua pahanya, sehingga aqu mudah menempatkan diri di atas badannya, dgn dada menekan kedua payudaranya yg montok, dgn bibir yg melumat bibirnya, dan bagian bawah tubuhku berada di antara kedua pahanya yg makin dilebarkan. Aqu turunkan pantatku, dan terasa kepala kemaluanku menyentuh rambut kemaluan Kirana, lalu aqu geserkan sedikit ke bawah dan kini terasa kepala kemaluanku berada diantara kedua bibir besarnya dan mulai menyentuh mulut kemaluannya.

Kemudian aqu dorongkan gagang kemaluanku perlahan-lahan menyusuri liang sanggama Kirana. Terasa sedikit seret majunya, karena Kirana sudah menKirana dua tahun, dan sedikitnya belum merasakan gagang kemaluan laki-laki sejak itu. Dgn sabar aqu majukan terus gagang kemaluanku sampai akhirnya tertahan oleh dasar kemaluan Kirana. Ternyata kemaluanku cukup besar dan panjang bagi Kirana, tetapi ini hanya sebentar saja, karena segera terasa Kirana mulai sedikit menggerakkan pantatnya sehingga aqu dapat mendorong gagang kemaluanku sampai habis, menghunjam ke dalem liang kemaluan Kirana.

Aqu membiarkan gagang kemaluanku di dalem liang kemaluan Kirana sekitar 20 detik, baru sesudah itu aqu mulai menariknya perlahan-lahan, sampai kira-kira setengahnya, lalu aqu dorongkan dgn lebih cepat sampai habis. Gerakan pantatku ternyata membangkitkan birahi Kirana yg juga menimpali dgn gerakan pantatnya maju dan mundur, kadangkala ke arah kiri dan kanan dan sesekali bergerak memutar, yg membuat kepala dan gagang kemaluanku terasa di remas-remas oleh liang kemaluan Kirana yg makin membasah.

Tak terasa, Kirana terdengar mendasah dasah, terbaur dgn dengusan nafasku yg ditimpali dgn hawa nafsu yg makin membubung. Untuk kali pertama aqu menyetubuhi Kirana, aqu belum ingin melaqukan gaya yg barangkali akan membuatnya kaget, jadi aqu teruskan gerakan pantatku mengikuti irama bersetubuh yg tradisional, tetapi ini juga membuahkan hasil kenikmatan yg amat sangat. Sekitar 40 menit kemudian, disertai dgn jeritan kecil Kirana, aqu hunjamkan seluruh gagang kemaluanku dalem dalem, kutekan dasar kemaluan Kirana dan seketika kemudian, terasa kepala kemaluanku menggangguk-angguk di dalem kesempitan liang kemaluan Kirana dan memancarkan air maniku yg sudah tertahan lebih dari satu minggu.

Terasa badan Kirana melamas, dan aqu biarkan berat badanku tergolek di atas payudaranya yg montok. Gagang kemaluanku mulai melemas, tetapi masih cukup besar, dan kubiarkan tergoler dalem jepitan liang kemaluannya. Terasa ada cairan hangat mengalir membasahi pangkal pahaqu. Sembari memeluk tubuh Kirana yg berkeringat, aqu bisikan ke telinganya.

"Kirana, terima kasih, terima kasih…”
TAMAT
Read More

Senin, 09 April 2018

Cerita Hot Bersama Ria Seksi

April 09, 2018
Cerita Hot Bersama Ria Seksi
Cerita Hot Terpanas - Perkenalkan Namu Ria, Aku punya teman dekat wanita namanya Lany kami jarang berjumpa sejak kami udah berkeluarga hingga anak-anak kami bertumbuh dewasa tetapi kami selalu bbm-an menanyakan kabar satu sama lain sampai sekarang, ada aja yang kami obrolkan dari tanya kabar anaknya, hingga tanya orang tuanya. Pada suatu hari Lany menelponku, dia habis pulang dari Medan kota kelahirannya sambil membawakan oleh-oleh kecil untuk keluargaku. Kata Anaknya yang bernama Ismed akan mengahantarkan oleh-olehnya kerumahku, Malam itu datanglah mereka memakai mobil avanza ke rumahku. Dua orang anak tanggung turun dari mobil itu. Mungkin si Ismed datang bareng temannya. 


Ah, jangkung betul anak Lany. Aku bukain pintu dengan bingkisan yang di sodorkannya kepadaku. Selamat malam Tante. Ini ada titipan dari mama untuk Tante Ria. Kenalin ini Jefri teman SMA saya, Tante”. Ismed menyerahkan kiriman dari ortunya dan mengenalkan rekannya padaku.

NONTON BOKEP ONLINE

Oleh-oleh dari Lany langsungku simpan di lemari es agar lebih awet dan tahan lama. Tetapi Aku terpesona saat melihat rekannya Ismed yang sudah gede dan kekar itu. Dengan gaya style dan rambutnya yang kece, sungguh keren rekan Jefri ini. Anak zaman sekarang tuh, mungkin karena pola makan udah maju pertumbuhan merekapun jadi subur. Dan mereka Aku ajak masuk ke dalam rumah. Kubuatlah minuman untuk mereka. Kuperhatikan mata si Jefri agak nakal, dia selalu pelototi buah dadaku. Matanya mengikuti apapun yang sedang Aku lakukan. Ah, maklum anak laki, kalau lihat cewek jadi melek. Tapi mereka juga pintar melucu dan banyak nyerempet-nyerempet ke masalah seksual gitu. Kami jadi banyak hiburan tertawa dan cepet saling akrab. Terus terang aja Aku senang dengan mereka datang ke rumahku. Dan tiba-tiba Aku merasa bertingkah aneh, apakah ini karena naluriku atau dasar genitku yang ngak hilang sejak masih gadis dulu. Dan sekarang naluri genitku itu tiba-tiba kembali hadir.

Mungkin jadi begini karena tingkah si Jefri yang seakan-akan memberikan ruang padaku untuk mengulangi peristiwa di masa muda. Peristiwa yang penuh gairah selalu mendebarkan jantung hatiku. Tetapi menggebu libidoku ini hingga cepat wajahku terasa bengap kemerahan menahan gejolak gairah karena mengingat masa laluku itu. Tante jangan ngelamun. Ntar cicak jatuh karena ngelamun loh”. Samber Jefri Kami kembali terbahak mendengar celotehan Jefri. Dan kulihat mata Jefri terus menunjukkan tertariknya pada bagian tubuhku yang masih mulus ini. Dan Aku ngak aneh lagi jika anak muda lebih suka menikmati penampilanku. Walaupun umurku yang memasuki 37 tahun tapi tetap masih fresh dan karena Aku memang sering merawat tubuhku sejak muda. Hey, gimana kalo kalian makan malam di sini. Aku punya resep masakan yang gampang dan cepat saji. Sementara Aku masak dan kalian bisa ngobrol, main game, internet atau apa lainnya. Tapi jangan cari yang aneh-aneh ya.. Tegurku Sewaktu aku di dapur, aku di kagetkan dengan kehadiran Jefri

Jefri : Tante dulu teman kuliah Mamanya Ismed ya? Kok jauh banget, sih?
Ria : Apanya yang jauh ?
Jefri : Tante seperti seumuran dengan rekan-rekanku”
Ria : Gombal aja ah. Kamu kok pintar ngegombal sih Jef ?
Jefri : Beneran kok, Kalau ngak percaya tanya deh sama orang lain, Tapi Tante hobbynya apa ? lanjutnya sambil melototi pahaku
Ria : Berenang, olah raga, nonton Bioskop
Jefri : Ooo, pantesan !!!
Ria : Apa yang pantesan?
Jefri : Pantesan body Tante masih mulus hehehe. sahutnya

Kurang asem aku di goda anak ABG, tetapi  Aku ngak akan pernah menyesal akan candaan Jefri ini. Hingga reaksi naluriku langsung membuat darahku terasa Jreng… libidoku muncul menguat. Selangkah demi selangkah ia mendekat ke Aku dan punya jalan untuk mengungkapkan kenakalan kelelakiannya. Ah, mata kamu saja yang genit, jawabku yang langsung membuatnya tertawa terbahak-bahak. Sudah sana temenin teman kamu dia lagi main game di ruang tamu. Gak mau ah Tan, aku di sini aja temenin tante masak boleh kan ? Tanyanya Ya udah, kalau mau bantu, tuh tolong ulek bumbu tumis biar masakannya cepet mateng, ujarku sambil mencubit dengan manis. Kemudian dia mengerjakan yang sudah penuh dengan bumbu siap untuk diulek. Beberapa saat kemudian aku mendekat ke dia untuk melihat hasil ulekannya . Uuuuh, wangi sedap nih, Tante. Ini wangi bumbu yang mirip dengan wangi tubuh Tante. Ujarnya Kurang asem kreatif banget nih anak, sambil ketawa kucubit pinggangnya hingga dia ke sakitan. Seketika reflek tangannya melepas pengulekan dan menarik tanganku dari cubitan di pinggangnya itu.

Saat terlepas tangannya tetap memegang tanganku, dia melihat ke mataku. Pandangannya itu membuat Aku gemetar. Akankah dia berani berbuat lebih jauh? Berani berbuat yang aku rindukan kesempatan macam ini? Akankah dia akan mengisi gejolak hausku? Petualanganku? Gairah gairahku? Ternyata Aku tidak memerlukan jawaban terlalu lama, sontak saja Jefri berani kepadaku menciumi bibirku. Sekarang kami sudah berciuman mesra saling menjulurkan lidah, serta tanga-tangan kami saling memeluk. Selang beberapa menit tangan Jefri bergeser ke bagian dadaku, Ia membuka tali BH kemudian meremas-remas kedua payudaraku, Kali ini aku terangsang dengan permainan tangannya dengan memutar-mutar pentil susuku. Tan, Aku gairah banget pegang susu tante, aku pengin cium susu tante, aku ingin menjilati vagina tante juga ya. Ujarnya

Kata-kata binal Jefri membuat sebuah sensasi erotik yang membuat Aku menggelinjang hebat. Kuputar-putar pinggulku untuk merasakan tonjolan penis Jefri yang mungkin sudah siap menikmati lubang vaginaku. Tak lama beberapa menit kemudian, Jefri menjadi sangat liar. Aku merasakan nikmat di sekujur urat-uratku, ia menjadi sangat liar. Maklum anak muda nafsunya masih membara. pikirkuDia mencoba melepaskan kancing-kancing serta menurunkan hotpants yang aku pakai, Gairahku sekarang sudah terbakar hebat serta siap menanti penis Jefri yang kekar tersebut, Begitu hotpantsku merosot di bawah kaki, Jefri langsung jongkok menjilati celana dalamku. Bayangkan betapa nikmatnya kami berdua berdansa di dapur ^_^… Jef, Tante lagi gatal banget nih” buka dong celanamu, Aku mau sepong, kamu mau juga kan ? tanyaku kepadanya Dan tanpa ada protes ia langsung melepaskan celana serta CDnya, Sekarang aku gantian yang jongkok untuk sepong penisnya. Dengan penuh gairah aku jilati ujung sobek lubang kencingnya. Ia menggelinjang ke gelian karena area sensitifnya di jilati. Udah deh Tante, Aku ingin penetrasi langsung aja”. Ujarnya belum juga Aku puas mengulumnya, dia angkat tubuhku ke atas meja serta mengangkangkan ke dua kaki untuk memulai permainan, Ia memulai dengan memasukan penisnya secara mandiri ke dalam lubang vaginaku serta memompa nya dengan kencang.

Aku rasa anak muda ini kurang berpengalaman, karena anak muda ini maunya serba cepat. Aku pikir dia pasti sebentar lagi akan keluar air maninya pasti muncrat, dan aku masih belum puas tentunya. Aku harus menunda agar gairah Jefri lebih terarah, Aku cepat-cepat tarik kemaluanku dari tusukkan penisnya, Aku coba juga ganti posisi nungging. Aku pengin Jefri nembak kemaluanku dari arah belakang. Dan Ini adalah gaya terfavoritku Nah, Aku merasakan enaknya kemaluan Jefri sekarang dengan posisi nungging. Pompaannya juga lebih teratur serta mantab dengan pantatku sebagai pemikatnya yang terus mengimbangi tusukan kemaluannya. Tak berapa lama kemudian, tiba-tiba Jefri bisikin ke telinganku, Tan, aku mau keluar nih ? masukin di dalam aja apa di luar aja tan ? tanyanya kepadaku. Mendengar Jefri yang nampak sudah kebelet mau muncratkan air mani, Aku segera bergerak jongkok sambil membuka mulutku di depan ujung penisnya yang sedang mendorong agar air maninya cepat keluar Air mani Jefri muncrat ke mulut dan wajahku, semua yang masuk di dalam mulut aku langsung telan, dan yang sisa di batang penisnya aku jlati dan hisap agar tidak ada lagi sisa-sisa air mani yang mubazir.

Emang dasar anak muda, gairahnya ngak pernah bisa dipuaskan. Belum sempat Aku istirahat mereka mengajak aku lagi ke ranjang, Aku ditelentangkannya di atas kasur. Dia tusukan penis yang sedang ngaceng ke arah lubang vaginaku lagi. Kali ini aku merasakan ujungnya menyentuh dinding rahimku. Aku kini tenggelam dalam suasana yang nikmat. Tak berapa lama kemudian kedua kalinya Jefri mengeluarkan air mani lagi untuk tubuhku, kail ini dia mengeluarkan air mani di dalam lubang vaginaku. Aku merasa oke-oke saja jika anak muda ini ingin menitipkan air maninya ke dalam tubuhku, asalkan ia tetap mau menjalani kasih sayang padaku. Dan ini kami jalani selama 4 bulan lamanya, setelah itu hilang kontak Jefri dan tidak ada kabar lagi darinya kepadaku. akupun mulai kesepian hingga kini
Read More

Minggu, 08 April 2018

Cerita Hot Bersama Gadis Penyanyi Cafe Yang Semok

April 08, 2018
Cerita Hot Bersama Gadis Penyanyi Cafe Yang Semok
CeritaHotTerpanass - Gadis ini wajahnya tidak terlalu cantik. Tingginya kurang lebih 160 cm/55 kg. Tubuhnya padat berisi. Ukuran payudaranya sekitar 36B. Kelebihannya adalah lesung pipitnya. Senyumnya manis dan matanya berbinar indah. Cukup seksi. Apalagi suaranya. Membuat telingaku fresh.


“Para pengunjung sekalian.. Malam ini saya, Felicia bersama band akan menemani anda semua. Jika ada yang ingin bernyanyi bersama saya, mari.. saya persilakan. Atau jika ingin request lagu.. silakan”.

Penyanyi yang ternyata bernama Felicia itu mulai menyapa pengunjung Cafe. Aku hanya tertarik mendengar suaranya. Percakapan dengan client menyita perhatianku. Sampai kemudian telingaku menangkap perubahan cara bermain dari sang keyboardist. Aku melihat ke arah band tersebut dan melihat Felicia ternyata bermain keyboard juga.

Felicia bermain solo keyboard sambil menyanyikan lagu “All of Me”. Lagu Jazz yang sangat sederhana. Aku menikmati semua jenis musik dan berusaha mengerti semua jenis musik. Termasuk jazz yang memang ‘brain music’. Musik cerdas yang membuat otakku berpikir setiap mendengarnya.

Felicia ternyata bermain sangat aman. Aku terkesima menemukan seorang penyanyi cafe yang mampu bermain keyboard dengan baik. Tiba-tiba aku menjadi sangat tertarik dengan Felicia. Aku menuliskan request laguku dan memberikannya melalui pelayan cafe tersebut.

“The Boy From Ipanema, please.. And your cellular number. 081xx. From Boy.”, tulisku di kertas request sekaligus menuliskan nomor HP-ku. Aku melanjutkan percakapan dengan clientku dan tak lama kemudian aku mendengar suara Felicia.

“The Boy From Ipanema.. Untuk Mr. Boy..?”

Bahasa tubuh Felicia menunjukkan bahwa dia ingin tahu dimana aku duduk. Aku melambaikan tanganku dan tersenyum ke arahnya. Posisi dudukku tepat di depan band tersebut. Jadi, dengan jelas Felicia bisa melihatku. Kulihat Felicia membalas senyumku. Dia mulai memainkan keyboardnya.

Sambil bermain dan bernyanyi, matanya menatapku. Aku pun menatapnya. Untuk menggodanya, aku mengedipkan mataku. Aku kembali berbicara dengan clientku. Tak lama kudengar suara Felicia menghilang dan berganti dengan suara penyanyi pria. Kulihat sekilas Felicia tidak nampak. Tit.. Tit.. Tit.. SMS di HP-ku berbunyi.

“Felicia.” tampak pesan SMS di HP-ku. Wah.. Felicia meresponsku. Segera kutelepon dia.

“Hai.. Aku Boy. Kau dimana, Felicia?”

“Hi Boy. Aku di belakang. Ke kamar mandi. Kenapa ingin tahu HP-ku?”

“Aku tertarik denganmu. Suaramu sexy.. Sesexy penampilanmu” kataku terus terang. Kudengar tawa ringan dari Felicia.

“Rayuan ala Boy, nih?”

“Lho.. Bukan rayuan kok. Tetapi pujian yang pantas buatmu yang memang sexy.. Oh ya, pulang dari cafe jam berapa? Aku antar pulang ya?”

“Jam 24.00. Boleh. Tapi kulihat kau dengan temanmu?”

“Oh.. dia clientku. Sebentar lagi dia pulang kok. Aku hanya mengantarnya sampai parkir mobil. Bagaimana?”


“Okay.. Aku tunggu ya.”

“Okay.. See you soon, sexy..”

Aku melanjutkan sebentar percakapan dengan client dan kemudian mengantarkannya ke tempat parkir mobil. Setelah clientku pulang aku kembali ke cafe. Waktu masih menunjukkan pukul 23.30.

Masih 30 menit lagi. Aku kembali duduk dan memesan hot tea. 30 menit aku habiskan dengan memandang Felicia yang menyanyi. Mataku terus menatap matanya sambil sesekali aku tersenyum. Kulihat Felicia dengan percaya diri membalas tatapanku. Gadis ini menarik hingga membuatku ingin mencumbunya.

Dalam perjalanan mengantarkan Felicia pulang, aku sengaja menyalakan AC mobil cukup besar sehingga suhu dalam mobil dingin sekali. Felicia tampak menggigil.

“Boy, AC-nya dikecilin yah?” tangan Felicia sambil meraih tombol AC untuk menaikkan suhu. Tanganku segera menahan tangannya. Kesempatan untuk memegang tangannya.

“Jangan.. Udah dekat rumahmu kan? Aku tidak tahan panas. Suhu segini aku baru bisa. Kalau kamu naikkan, aku tidak tahan..” alasanku.

Aku memang ingin membuat Felicia kedinginan. Kulihat Felicia bisa mengerti. Tangan kiriku masih memegang tangannya. Kuusap perlahan. Felicia diam saja.

“Kugosok ya.. Biar hangat..” kataku datar. Aku memberinya stimuli ringan. Felica tersenyum. Dia tidak menolak.

“Ya.. Boleh. Habis dingin banget. Oh ya, kamu suka jazz juga ya?”

“Hampir semua musik aku suka. Oh ya, baru kali ini aku melihat penyanyi jazz wanita yang bisa bermain keyboard. Mainmu asyik lagi.”

“Haha.. Ini malam pertama aku main keyboard sambil menyanyi.”

“Oh ya? Tapi tidak terlihat canggung. Oh ya, kudengar tadi mainmu banyak memakai scale altered dominant ya?” aku kemudian memainkan tangan kiriku di tangannya seolah-olah aku bermain piano.

“What a Boy! Kamu tahu jazz scale juga? Kamu bisa main piano yah?” Felicia tampak terkejut. Mukanya terlihat penasaran.

“Yah, dulu main klasik. Lalu tertarik jazz. Belum mahir kok.” Aku berhenti di depan rumah Felicia.

“Tinggal dengan siapa?” tanyaku ketika kami masuk ke rumahnya. Ya, aku menerima ajakannya untuk masuk sebentar walaupun ini sudah hampir jam 1 pagi.

“Aku kontrak rumah ini dengan beberapa temanku sesama penyanyi cafe. Lainnya belum pulang semua. Mungkin sekalian kencan dengan pacarnya.”

Felicia masuk kamarnya untuk mengganti baju. Aku tidak mendengar suara pintu kamar dikunci.

Wah, kebetulan. Atau Felicia memang memancingku? Aku segera berdiri dan nekat membuka pintu kamarnya. Benar! Felicia berdiri hanya dengan bra dan celana dalam. Di tangannya ada sebuah kaos.

Kukira Felicia akan berteriak terkejut atau marah. Ternyata tidak. Dengan santai dia tersenyum.

“Maaf.. Aku mau tanya kamar mandi dimana?” tanyaku mencari alasan. Justru aku yang gugup melihat pemandangan indah di depanku.

“Di kamarku ada kamar mandinya kok. Masuk aja.”

Wah.. Lampu hijau nih. Di kamarnya aku melihat ada sebuah keyboard. Aku tidak jadi ke kamar mandi malah memainkan keyboardnya. Aku memainkan lagu “Body and Soul” sambil menyanyi lembut. Suaraku biasa saja juga permainanku. Tapi aku yakin Felicia akan tertarik. Beberapa kali aku membuat kesalahan yang kusengaja. Aku ingin melihat reaksi Felicia.

“Salah tuh mainnya.” komentar Felicia. Dia ikut bernyanyi.

“Ajarin dong..” kataku.

Dengan segera Felicia mengajariku memainkan keyboardnya. Aku duduk sedangkan Felicia berdiri membelakangiku. Dengan posisi seperti memelukku dari belakang, dia menunjukkan sekilas notasi yang benar. Aku bisa merasakan nafasnya di leherku. Wah.. Sudah jam 1 pagi. Aku menimbang-nimbang apa yang harus aku lakukan. Aku memalingkan mukaku. Kini mukaku dan Felicia saling bertatapan. Dekat sekali. Tanganku bergerak memeluk pinggangnya. Kalau ditolak, berarti dia tidak bermaksud apa-apa denganku. Jika dia diam saja, aku boleh melanjutkannya. Kemudian tangannya menepis halus tanganku. Kemudian dia berdiri. Aku ditolak.

“Katanya mau ke kamar mandi?” tanyannya sambil tersenyum. Oh ya.. Aku melupakan alasanku membuka pintu kamarnya.

“Oh ya..” aku berdiri.

Ada rasa sesak di dadaku menerima penolakannya. Tapi aku tak menyerah. Segera kuraih tubuhnya dan kupeluk. Kemudian kuangkat ke kamar mandi!

“Eh.. Eh, apa-apaan ini?” Felicia terkejut. Aku tertawa saja.

Kubawa dia ke kamar mandi dan kusiram dengan air! Biarlah. Kalau mau marah ya aku terima saja.

Yang jelas aku terus berusaha mendapatkannya. Ternyata Felicia malah tertawa. Dia membalas menyiramku dan kami sama-sama basah kuyup. Segera aku menyandarkannya ke dinding kamar mandi dan menciumnya!

Felicia membalas ciumanku. Bibir kami saling memagut. Sungguh nikmat bercumbu di suhu dingin dan basah kuyup. Bibir kami saling berlomba memberikan kehangatan. Tanganku merain kaosnya dan membukanya. Kemudian bra dan celana pendeknya. Sementara Felicia juga membuka kaos dan celanaku. Kami sama-sama tinggal hanya memakai celana dalam. Sambil terus mencumbunya, tangan kananku meraba, meremas lembut dan merangsang payudaranya. Sementara tangan kiriku meremas bongkahan pantatnya dan sesekali menyelinap ke belahan pantatnya. Dari pantatnya aku bisa meraih vaginanya. Menggosok-gosoknya dengan jariku.

“Agh..” kudengar rintihan Felicia. Nafasnya mulai memburu. Suaranya sexy sekali. Berat dan basah. Perlahan aku merasakan penisku ereksi.

“Egh..” aku menahan nafas ketika kurasakan tangan Felicia menggenggam batang penisku dan meremasnya.

Tak lama dia mengocok penisku hingga membuatku makin terangsang. Tubuh Felicia kuangkat dan kududukkan di bak air. Cukup sulit bercinta di kamar mandi. Licin dan tidak bisa berbaring. Sewaktu Felicia duduk, aku hanya bisa merangsang payudara dan mencumbunya. Sementara pantat dan vaginanya tidak bisa kuraih. Felicia tidak mau duduk. Dia berdiri lagi dan menciumi puting dadaku!

Ternyata enak juga rasanya. Baru kali ini putingku dicium dan dijilat. Felicia cukup aktif. Tangannya tak pernah melepas penisku. Terus dikocok dan diremasnya. Sambil melakukannya, badannya bergoyang-goyang seakan-akan dia sedang menari dan menikmati musik. Merasa terganggu dengan celana dalam, aku melepasnya dan juga melepas celana dalam Felicia. Kami bercumbu kembali.

Lidahku menekan lidahnya. Kami saling menjilat dan menghisap.

Rintihan kecil dan desahan nafas kami saling bergantian membuat alunan musik birahi di kamar mandi. Suhu yang dingin membuat kami saling merapat mencari kehangatan. Ada sensasi yang berbeda bercinta ketika dalam keadaan basah. Waktu bercumbu, ada rasa ‘air’ yang membuat ciuman berbeda rasanya dari biasanya.

Aku menyalakan shower dan kemudian di bawah air yang mengucur dari shower, kami semakin hangat merapat dan saling merangsang. Aliran air yang membasahi rambut, wajah dan seluruh tubuh, membuat tubuh kami makin panas. Makin bergairah. Kedua tanganku meraih pantatnya dan kuremas agak keras, sementara bibirku melumat makin ganas bibir Felicia. Sesekali Felicia menggigit bibirku.

Perlahan tanganku merayap naik sambil memijat ringan pinggang, punggung dan bahu Felicia. Dari bahasa tubuhnya, Felicia sangat menikmati pijatanku.

“Ogh.. Its nice, Boy.. Och..” Felicia mengerang.

Lidahku mulai menjilati telinganya. Felicia menggelinjang geli. Tangannya ikut meremas pantatku.

Aku merasakan payudara Felicia makin tegang. Payudara dan putingnya terlihat begitu seksi.

Menantang dengan puting yang menonjol coklat kemerahan.

“Payudaramu seksi sekali, Felicia.. Ingin kumakan rasanya..” candaku sambil tertawa ringan. Felicia memainkan bola matanya dengan genit.

“Makan aja kalo suka..” bisiknya di telingaku.

“Enak lho..” sambungnya sambil menjilat telingaku. Ugh.. Darahku berdesir. Perlahan ujung lidahku mendekati putingnya. Aku menjilatnya persis di ujung putingnya.

“Ergh..” desah Felicia. Caraku menjilatnya lah yang membuatnya mengerang.

Mulai dari ujung lidah sampai akhirnya dengan seluruh lidahku, aku menjilatnya. Kemudian aku menghisapnya dengan lembut, agak kuat dan akhirnya kuat. Tak lama kemudian Felicia kemudian membuka kakinya dan membimbing penisku memasuki vaginanya.

“Ough.. Enak.. Ayo, Boy” Felicia memintaku mulai beraksi.

Penisku perlahan menembus vaginanya. Aku mulai mengocoknya. Maju-mundur, berputar, Sambil bibir kami saling melumat. Aku berusaha keras membuatnya merasakan kenikmatan. Felicia dengan terampil mengikuti tempo kocokanku. Kamu bekerja sama dengan harmonis saling memberi dan mendapatkan kenikmatan. Vaginanya masih rapat sekali. Mirip dengan Ria. Apakah begini rasanya perawan? Entahlah. Aku belum pernah bercinta dengan perawan, kecuali dengan Ria yang selaput daranya tembus oleh jari pacarnya.

“Agh.. Agh..” Felicia mengerang keras. Lama kelamaan suaranya makin keras.


“Come on, Boy.. Fuck me..” ceracaunya.

Rupanya Felicia adalah tipe wanita yang bersuara keras ketika bercinta. Bagiku menyenangkan juga mendengar suaranya. Membuatku terpacu lebih hebat
menghunjamkan penisku. Lama-lama tempoku makin cepat. Beberapa saat kemudian aku berhenti. Mengatur nafas dan mengubah posisi kami.

Felicia menungging dan aku ‘menyerangnya’ dari belakang. Doggy style. Kulihat payudara Felicia sedikit terayun-ayun. Seksi sekali. Dengan usil jariku meraba anusnya, kemudian memasukkan jariku.

“Hey.. Perih tau!” teriak Felicia. Aku tertawa.

“Sorry.. Kupikir enak rasanya..” Aku menghentikan memasukkan jari ke anusnya tetapi tetap bermain-main di sekitar anusnya hingga membuatnya geli.

Cukup lama kami berpacu dalam birahi. Aku merasakan saat-saat orgasmeku hampir tiba. Aku berusaha keras mengatur ritme dan nafasku.

“Aku mau nyampe, Felicia..”

“Keluarin di dalam aja. Udah lama aku tidak merasakan semburan cairan pria” Aku agak terhenti. Gila, keluarin di dalam. Kalau hamil gimana, pikirku.

“Aman, Boy. Aku ada obat anti hamil kok..” Felicia meyakinkanku. Aku yang tidak yakin. Tapi masa bodoh ah. Dia yang menjamin, kan? Kukocok lagi dengan gencar. Felicia berteriak makin keras.

“Yes.. Aku juga hampir sampe, Boy.. come on.. come on.. oh yeah..”

Saat-saat itu makin dekat.. Aku mengejarnya. Kenikmatan tiada tara. Membuat saraf-saraf penisku kegirangan. Srr.. Srr..

“Aku orgasme. Sesaat kemudian kurasakan tubuh Felicia makin bergetar hebat. Aku berusaha keras menahan ereksiku. Tubuhku terkejang-kejang mengalami puncak kenikmatan.

“Aarrgghh.. Yeeaahh..” Felicia menyusulku orgasme.

Dia menjerit kuat sekali kemudian membalikkan badannya dan memelukku. Kami kemudian bercumbu lagi. Saatnya after orgasm service. Tanganku memijat tubuhnya, memijat kepalanya dan mencumbu hidung, pipi, leher, payudara dan kemudian perutnya. Aku membuatnya kegelian ketika hidungku bermain-main di perutnya. Kemudian kuangkat dia.
Mengambil handuk dan mengeringkan tubuh kami berdua. Sambil terus mencuri-curi ciuman dan rabaan, kami saling menggosok tubuh kami. Dengan tubuh telanjang aku mengangkatnya ke tempat tidur, membaringkannya dan kembali menciumnya. Felicia tersenyum puas. Matanya berbinar-binar.

“Thanks Boy.. Sudah lama sekali aku tidak bercinta. Kamu berhasil memuaskanku..”

Pujian yang tulus. Aku tersenyum. Aku merasa belum hebat bercinta. Aku hanya berusaha melayani setiap wanita yang bercinta denganku. Memperhatikan kebutuhannya.

Aku sangat terkejut ketika tiba-tiba pintu kamar terbuka. Sial, kami tadi lupa mengunci pintu!! Seorang wanita muncul. Aku tidak sempat lagi menutupi tubuh telanjangku.

“Ups.. Gak usah terkejut. Dari tadi aku udah dengar teriakan Felicia. Tadi malah sudah mengintip kalian di kamar mandi..” kata wanita itu. Aku kecolongan. Tapi apa boleh buat. Biarkan saja. Kulihat Felicia tertawa.

“Kenalin, dia Gladys. Mbak.. Dia Boy.” aku menganggukkan kepalaku padanya.

“Hi Gladys..” sapaku.

Kemudian aku berdiri. Dengan penis lemas terayun aku mencari kaos dan celana pendek Felicia dan memakainya. Gladys masuk ke kamar. Busyet, ni anak tenang sekali, Pikirku. Sudah jam 2 pagi. Aku harus pulang.END
Read More

Sabtu, 07 April 2018

Menggoda Anak Ibu Kos Yang Semok Ketika Dipijit

April 07, 2018
Menggoda Anak Ibu Kos Yang Semok Ketika Dipijit
CeritaHotTerpanass - Kisah ini kudapat pada saat aku sedang dipijat oleh tukang pijat langgananku. Dia adalah tukang pijat yg biasa di panggil ke rumah2 di lingkunganku. Namanya MakNah, Umurnya sekitar 45 tahun lebih sedikit, punya empat orang anak yg semuanya merantau ke Jakarta, suaminya seorang mandor bangunan, yg kerjanya sering keluar kota ngerjakan pembangunan perumahan baru, jadi pulangnya bisa satu minggu sekali. MakNah memang seorang tukang pijat yg bisa dibilang handal sekali, karena kata orang banyak yg cocok dengan pijatannya.


Aku emang udah sering sekali dipijat dengan MakNah, pijatannya pas buat aku, keras gak, lunak juga tidak, jadi pas banget. aku tahu kebiasaan MakNah kalo sedang mijat, tanpa ada yg dilihat, dia akan cepet, paling banter 1,5 jam dah selesai, tapi kalo mijetnya sambil liat televisi, apalagi sinetron kesayangannya bisa ampe 2,5 jam mijetnya.

Makanya tiap mau dipijet MakNah, aku ajak dia ke ruang belakang dekat dapur, kemudian kubentangkan matras di depan televisi. Biar mijetnya lama, sampai aku ketiduram. Nah awal mula cerita ini bisa keluar dari sini. MakNah memang belum tahu kebiasaanku kalo dirumah, dengan beberapa anak kostku. Dari sinilah dia tau sedikit banyak tentang keisenganku pada anak2 kostku.

Jam 08 pagi kurang sedikit MakNah datang kerumahku setelah aku telepon dia untuk memijatku, kusuruh dia menungguku di belakang setelah menyiapkan matras, dan televise kunyalakan. 

Aku pamitan ke MakNah tuk ganti bajuku dengan sarung seperti kebiasaanku saat dipijat biar ga kena minyak pas dipijat nanti. Aku keluar hanya memakai sarung yg kulilitkan didadaku tanpa menggunakan apa2 didalemnya, sambil membawa bodylotion buat pijet. Aku tengkurap di atas matras, sambil menikmati pijatan MakNah. karena dipijat membuat sarung yg kupakai menjadi tidak berarti, sarungku jadi hanya seperti ikat pinggang yg melingkar di pinggangku, karena MakNah sendiri mijetnya sambil asyik nonton televise.

Ga terasa aku ketiduran karena enaknya pijatan MakNah, dan kondisiku masih seperti tadi, dengan tubuh yg polos, karena sarung yg tersingkap dan mengumpul di pinggang, sedangkan aku tidak memakai daleman sama sekali.

Aku terbangun saat MakNah membangunkanku, karena ada anak tetangga yg masuk kerumah mencariku, dengan malas2an aku buka mataku, kulirik jam dinding udah jam 9 lebih. Ternyata aku telah tertidur lebih dari satu jam. Lalu kutanya ke MakNah siapa yg mencariku, dia memberi isyarat dengan matanya, pandanganku menoleh mengikuti isyaratnya. Aku terkejut, ternyata putra tunggal Bu Pr***i tetanggaku yg rumahnya berjarak empat rumah dari rumahku yang masih duduk dikelas 1 SMP namanya Rona

Dia berdiri kira2 berjarak kurang dari 2 meter dibelakangku, pandangannya lekat menerawang tubuhku yg telanjang dari belakang dengan mulut yg agak ternganga keheranan. Akupun juga sempat terkejut dibuatnya, begitu pandanganku mengarah padanya, mukanya langsung tertunduk sungkan padaku, tapi aku kaget, pas liat kebawah pada celana pendeknya, ada sesuatu yang menonjol kesamping, jangan2 anak ini terangsang melihatku, sehingga membuat titit nya berdiri, tapi kok ke samping, apakah anak ini ga pake CD???

Kelihatan sekali tonjolan itu, karena emang kaosnya yg hanya sebatas pinggangnya. Tanpa merubah posisiku, kutanya maksud kedatangannya ke sini sambil terus mengamati tingkah lakunya. Dengan mencuri-curi pandang pada tubuhku dijawabnya pertanyaanku, kalo disuruh mamanya pinjam sanggul ma kebaya buat acara resepsi diluar kota besok lusa.

Kusuruh Rona duduk di kursi yang ada tepat disampingnya, sedangkan aku menyuruh MakNah terus memijatku, aku kedipkan mata ke MakNah agar terus memijat diriku, ternyata MakNah mengerti maksudku. Pijatan MakNah bergeser ke bawah di kedua kakiku dan pantatku, sehingga membuatku melebarkan kedua kakiku. Dengan begitu Rona pasti sangat tercengang melihatku dari belakang dengan kedua kaki melebar, mungkin dia secara samar2 bisa melihat garis pada belahan vaginaku.
Sanbil terus dipijat pada bagian kaki belakangku, aku ajak ngobrol Rona, agar dia terus menujukan matanya padaku.

“kamu sekarang kelas berapa rona?” tanyaku padanya.
“kelas 1smp bu Har” jawabnya.
“kok kamu yang disuruh? Mamamu mana?”
“mama lagi belanja ke tokonya Mbak S***a”

Aku sampai merasakan denyutan2 halus di vaginaku, karena merasakan sensasinya. Pastinya MakNah tahu dengan kondisiku ini karena terasa melembab pada vaginaku. lama juga aku ajak ngobrol Rona, dengan maksud untuk menggodanya, pasti matanya terus mengawasi tubuh telanjangku dari belakang, aku hanya sesekali menoleh kebelakang padanya. Kedua kakinya dirapatkan, pas aku menoleh kearahnya langsung dibuangnya pandangannya mengarah ke televise, tapi yang pasti dia dari tadi mengawasiku tanpa berkedip.

Setelah hampir dua puluh menitan, MakNah memijat tubuh belakangku. Aku disuruhnya terlentang, untuk memijat bagian depan tubuhku. Dengan kesan yang tidak vulgar, aku tarik sarungku keatas, sampai menutupi dadaku, dan kubenahi sarung bagian bawahku sampai lututku. Kemudian baru kubalikkan tubuhku terlentang.

Karena didalam aku tidak memakai apa2, alias no bra dan cd, kedua payudaraku otomatis tercetak dengan jelas dengan kedua putting yang menonjol dan pastinya juga adanya sedikit gundukan antara kedua belah paha dalamku, karena posisi kakiku yang sedikit merenggang. Dan sarung yang menutup tubuhku hanya sebatas payudara bagian tengah, otomatis sebagian bulatan payudaraku bagian atas dan garis pemisah antara kedua payudaraku terlihat jelas. Kulirik sebentar ekspresi Rona, matanya begitu tajam menerawangi tubuhku tanpa berkedip. Bahkan bisa kurasakan kalau nafasnya tercekat untuk beberapa saat.

Aku jadi tertegun sendiri dengan ekspresi yg ditunjukan Rona saat melihatku terlentang, duduknyapun bahkan seperti tidak jenak. Aku sedikit merinding juga, ternyata anak ini begitu lugu, dan mungkin baru pertama kali ini dia melihat wanita seperti ini. wajahnyapun tampak agak pucat. MakNah sempat berkedip padaku demi melihat ekspresi Rona yang seperti itu, sepertinya MakNah berpikiran sama denganku, kalo Rona ini begitu lugu dan masih sangat hijau.
Dengan sedikit berdehem aku bertanya pada Rona.

“Rona tadi udah maem belum?”

Dengan suara yang parau dan tercekat, mungkin karena kaget atau terangsang berat, dia menjawabku dengan terbata-bata. “Uuuu….su..d..dah..bu..u…Har…”, aku dengan MakNah saling pandang mendengar jawaban Rona yang parau dan terbata-bata. Mungkin juga saat ini kami punya persamaan dalam pikiran tentang Rona yg lugu yang sangat terangsang melihat keadaanku.

“ya udah kalo kamu emang udah makan, karena bu Har pijatnya masih agak lama, kamu ga papa kan nungguin bentar?” tanyaku pada Rona.
“gapapa bu Har, Rona masih kenyang banget” jawab Rona dengan suara yang masih parau dan terbata-bata, tapi dengan pandangan diarahkan ke televise, demi melihat pandanganku yang mengarah padanya.
“kalo mo ambil minum apa makanan, ambil aja sendiri, tuh di kulkas” sambil tanganku menunjuk ke kulkas yang berada di samping kanannya.

“iya bu Har, makasih” jawab Rona, sambil pandangannya mengikuti telunjukku kearah kulkas sambil sedikit melirik tubuhku saat pandangannya berpindah dari televise ke kulkas.dengan keadaan terlentang begini, aku bisa terus mengamati tingkah laku Rona. Matanya sering mencuri-curi pandang pada tubuhku, kemudian kembali melihat televise, tapi sepertinya sangat tidak konsen pada televise yg dilihatnya, nafsnya begitu berat, seperti menahan sesuatu yang sangat berat. Bahkan duduknya pun sepertinya tidak enak.

Saat ini memang bagian tanganku yg dipijit MakNah, jadi aku masih bisa mengajak ngobrol Rona dengan leluasa, karena kondisi tubuhku masih tertutup oleh sarung, jadi kesannya masih normal saja. Setelah pijatan pada kedua tanganku selesai, maknah berpindah pada pundak dan bagian dadaku sebelah atas. Yang aku tahu, pasti maknah akan menurunkan sarungku pada bagian dadaku sampai batas bulatan coklat yg melingkari putting susuku. Aku langsung memejamkan mataku, dengan maksud agar Rona bisa leluasa menikmati pemandangan ini, tanpa sungkan terlihat olehku. Karena posisi maknah sendiri ada di sebelah kiri menghadapku, sedangkan Rona duduk disebelah agak kanan lurus dengan kakiku agak jauh dibawahku, karena memang posisiku yg terlentang.

Saat maknah mulai memijatku, sesekali kupicingkan mataku sedikit untuk melihat seperti apa ekspresi Rona melihat sebagian payudaraku yg terbuka hampir sampai putingku. Aku benar tidak menyangka, kalo rona menatapku lekat2 tanpa berkedip, dengan mulut yang sedikit bengong. Kepalanya sampai dimajukannya untuk bisa melihat lebih jelas. Mungkin dia merasa aman, karena maknah sedang sibuk memijitku, sedangkan aku menurutnya sedang terpejam, jadi rona merasa leluasa menatapku seperti itu. Kaki rona disilangkan dengan rapat, seperti sedang menutupi penisnya yg mungkin sangat tegang.

Badanku serasa merinding dan menghangat oleh sikap rona yg sedemikian, aku merasakan sensasi yg hangat dan eksotis oleh sikap rona yg sedang mengamati tubuhku. Maknah sampai melirikku, karena kondisi badanku yg tahu2 merinding semua, sambil tersenyum kecil padaku. Aku membalas senyum kecilnya dengan sekidikit berkedip, dan maknah menyadarinya. END
Read More

Kamis, 05 April 2018

Cerita Hot Bermain di Hutan

April 05, 2018
Cerita Hot Bermain di Hutan
CeritaHotTerpanass - Pada suatu liburan sekolah yang panjang, kami dari sebuah SLTA mengadakan pendakian gunung di Jawa Timur. Rombongan terdiri dari 5 laki-laki dan 5 wanita. Diantara rombongan itu satu guru wanita ( guru biologi) dan satu guru pria ( guru olah raga ). Acara liburan ini sebenarnya amat tidak didukung oleh cuaca. Soalnya, acara kami itu diadakan pada awal musim hujan. Tapi kami tidak sedikitpun gentar menghadapi ancaman cuaca itu.


Ada yang sedikit mengganjal hati saya, yakni Ibu Guru Anisa ( saya memanggilnya Anisa ) orangnya terkenal galak dan judes itu dan anti cowok ! denger-denger dia itu lesbi. Ada yang bilang dia patah hati dari pacarnya dan kini sok anti cowok. Bu Anis umurnya belum 30 tahun, sarjana, cantik, tinggi, kulit kuning langsat, full press body. Sedangkan teman – teman cewek lainnya terdiri dari cewek-cewek bawel tapi cantik-cantik dan periang, cowoknya, terus terang saja, semuanya bandit asmara ! termasuk pak Martin guru olah raga kami itu.

Perjalanan menuju puncak gunung, mulai dari kumpul di sekolah hingga tiba di kaki gunung di pos penjagaan I kami lalui dengan riang gembira dan mulus-mulus saja. Seperti biasanya rombongan berangkat menuju ke sasaran melalui jalan setapak. Sampai tengah hari, kami mulai memasuki kawasan yang berhutan lebat dengan satwa liarnya, yang sebagian besar terdiri dari monyet-monyet liar dan galak. Menjelang sore, setelah rombongan istirahat sebentar untuk makan dan minum, kami berangkat lagi.

Kata pak Martin sebentar lagi sampai ke tujuan. Saking lelahnya, rombongan mulai berkelompok dua-dua. Kebetulan aku berjalan paling belakang menemani si bawel Anisa dan disuruh membawa bawaannya lagi, berat juga sih, sebel pula! Sebentar-sebentar minta istirahat, bahkan sampai 10 menit, lima belas menit, dan dia benar-benar kecapean dan betisnya yang putih itu mulai membengkak.

Kami berangkat lagi, tapi celaka, rombongan di depan tidak nampak lagi, nah lo ?! Kami kebingungan sekali, bahkan berteriak memanggil-manggil mereka yang berjalan duluan. Tak ada sahutan sedikitpun, yang terdengar hanya raungan monyet-monyet liar, suara burung, bahkan sesekali auman harimau. Anisa sangat ketakutan dengan auman harimau itu. Akhirnya kami terus berjalan menuruti naluri saja. Rasa-rasanya jalan yang kami lalui itu benar, soalnya hanya ada satu jalan setapak yang biasa dilalui orang.
Sial bagi kami, kabut dengan tiba-tiba turun, udara dingin dan lembab, hari mulai gelap, hujan turun rintik-rintik. Anisa minta istirahat dan berteduh di sebuah pohon sangat besar. Hingga hari gelap kami tersasar dan belum bertemu dengan rombongan di depan. Akhirnya kami memutuskan untuk bermalam di sebuah tepian batu cadas yang sedikit seperti goa.

Hujan semakin lebat dan kabut tebal sekali, udara menyengat ketulang sumsum dinginnya. Bajuku basah kuyup, demikian juga baju Anisa. Dia menggigil kedinginan. Sekejap saja hari menjadi gelap gulita, dengan tiupan angin kencang yang dingin. Kami tersesat di tengah hutan lebat.
Tanpa sadar Anisa saking kedinginan dia memeluk aku. “Maaf” katanya. Aku diam saja, bahkan dia minta aku memeluknya erat-erat agar hangat tubuhnya. Pelukan kami semakin erat, seiring dengan kencangnya deras hujan yang dingin. Jika aku tak salah, hampir tiga jam lamanya hujan turun, dan hampir tiga jam kami berpelukan menahan dingin.

Setelah hujan reda, kami membuka ransel masing-masing. Tujuan utamanya adalah mencari pakaian tebal, sebab jaket kami sudah basah kuyup. Seluruh pakaian bawaan Anisa basah kuyup, aku hanya punya satu jaket parasut di ransel. Anisa minta aku meminjamkan jakaetku. Aku setuju. Tapi apa yag terjadi ? wow…Anisa dalam suasana dingin itu membuka seluruh pakaiannya guna diganti dengan yang agak kering. Mulai dari jaket, T. Shirt nya, BH nya, wah aku melihat seluruh tubuh Anisa. Dia cuek saja, payudaranya nampak samar-samar dalam gelap itu. Tiba-tiba dia memelukku lagi.
“Dingin banget” katanya. “Terang dingin , habis kamu bugil begini” jawabku.
“Habis bagaimana? basah semua, tolong pakein aku jeketmu dong ?” pinta Anisa.
Aku memakaikan jaket parasut itu ketubuh Anisa. Tanganku bersentuhan dengan payudaranya, dan aku berguman
” Maaf Nisa ?”

“Enggak apa-apa ?!”: sahutnya.
Hatiku jadi enggak karuan, udara yang aku rasakan dingin mendadak jadi hangat, entah apa penyebabnya. Anisa merangkulku, “Dingin” katanya, aku peluk saja dia erat-erat. ” Hangat bu ?” tanyaku ” iya, hangat sekali, yang kenceng dong meluknya ” pintanya. Otomatis aku peluk erat-erat dan semakin erat.
Aneh bin ajaib, Anisa tampak sudah berkurang merasakan kedinginan malam itu, seperti aku juga. Dia meraba bibirku, aku reflex mencium bibir Anisa. Lalu aku menghindar. “Kenapa?” tanya Anisa
” Maaf Nisa ? ” Jawabku.

” Tidak apa-apa Rangga, kita dalam suasana seperti ini saling membutuhkan, dengan begini kita saling bernafsu, dengan nafsu itu membangkitkan panas dalam darah kita, dan bisa mengurangi rasa dingin yang menyengat.
Kembali kami berpelukan, berciuman, hingga tanpa sadar aku memegang payudaranya Anisa yang montok itu, dia diam saja, bahkan seperti meningkat nafsu birahinya. Tangannya secara reflek merogoh celanaku kedalam hingga masuk dan memegang penisku. Kami masih berciuman, tangan Anisa melakukan gerakan seperti mengocok-ngocok ‘Mr. Penny’ku. Tanganku mulai merogoh ‘Ms. Veggy’nya Anisa, astaga ! dia rupanya sudah melepas celana dalamnya sedari …
tadi.

Karena remang-remang aku sampai tak melihatnya. ‘Ms. Veggy’nya hangat sekali bagian dalamnya, bulunya lebat.
Anisa sepontan melepas seluruh pakaiannya, dan meminta aku melepas pula . Aku tanpa basa basi lagi langsung bugil. Kami bergumul diatas semak-semak, kami melakukan hubungan badan ditengah gelap gulita itu. Kami saling ganti posisi, Anisa meminta aku dibawah, dia diatas. Astaga, goyangnya!! Pengalaman banget dia ? kan belum kawin ?
” Kamu kuat ya?” bisiknya mesra.
” Lumayan sayang ?!” sahutku setengah berbisik.
” Biasa main dimana ?” tanyanya
“Ada apa sayang?” tanyaku kembali.
” Akh enggak” jawabnya sambil melepas ‘Ms. Veggy’nya dari ‘Mr. Penny’ku, dan dengan cekatan dia mengisap dan menjilati ‘Mr. Penny’ku tanpa rasa jijik sedikitpun.
Anisa meminta agar aku mengisap payudaranya, lalu menekan kepalaku dan menuntunnya ke arah ‘Ms. Veggy’nya. Aku jilati ‘Ms. Veggy’ itu tanpa rasa jijik pula. Tiba-tiba saja dia minta senggama lagi, lagi dan lagi, hingga aku ejakulasi.
Aku sempat bertanya, “Bagaimana jika kamu hamil ?”
” Don’t worry !” katanya.

Dan setelah dia memebersihkan ‘Ms. Veggy’nya dari spermaku, dia merangkul aku lagi. Malam semakin larut, hujan sudah reda, bintang-bintang di langit mulai bersinar. Pada jam 12 tengah malam, bulan nampak bersinar terang benderang. Paras Anisa tampak anggun dan cantik sekali. Kami ngobrol ngalor-ngidul, soal kondom, soal sekolah, soal nasib guru, dsb. Setelah ngobrol sekian jam, tepat pukul 3 malam, Anisa minta bersetubuh denganku lagi, katanya nikmat sekali ‘Mr. Penny’ku. Aku semakin bingung, dari mana dia tahu macam-macam rasa ‘Mr. Penny’, dia kan belum nikah ? tidak punya pacar ? kata orang dia lesbi.

Aku menuruti permintaan Anisa. Dia menggagahi aku, lalu meminta aku melakukan pemanasan sex (foreplay). Mainan Anisa bukan main hebatnya, segala gaya dia lakukan. Kami tak peduli lagi dengan dinginnya malam, gatalnya semak-semak. Kami bergumul dan bergumul lagi. Anisa meraih tanganku dan menempelkan ke payudaranya. Dia minta agar aku meremas-remas payudaranya, lalu memainkan lubang ‘Ms. Veggy’nya dengan jariku, menjilati sekujur bagian dagu. Tak kalah pula dia mengocok-ngocok ‘Mr. Penny’ku yang sudah sangat tegang itu, lalu dijilatinya, dan dimasukkannya kelubang vaginanya, dan kami saling goyang menggoyang dan hingga kami saling mencapai klimaks kenikmatan, dan terkulai lemas.

Anisa minta agar aku tak usah lagi menyusul kelompok yang terpisah. Esoknya kami memutuskan untuk berkemah sendiri dan mencari lokasi yang tak akan mungkin dijangkau mereka. Kami mendapatkan tempat ditepi jurang terjal dan ada goa kecilnya, serta ada sungai yang bening, tapi rimbun dan nyaman. Romantis sekali tempat kami itu. Aku dan Anisa layaknya seperti Tarzan dan pacarnya di tengah hutan. Sebab seluruh baju yang kami bawa basah kuyup oleh hujan.
Anisa hanya memakai selembar selayer yang dililitkan diseputar perut untuk menutupi kemaluannya. Aku telanjang bulat, karena baju kami sedang kami jemur ditepi sungai. Anisa dengan busana yang sangat minim itu membuat aku terangsang terus, demikian pula dia. Dalam hari-hari yang kami lalui kami hanya makan mi instant dan makanan kaleng.

Tepat sudah tiga hari kami ada ditempat terpencil itu. Hari terakhir, sepanjang hari kami hanya ngobrol dan bermesraan saja. Kami memutuskan esok pagi kami harus pulang. Di hari terakhir itu, kesmpatan kami pakai semaksimal mungkin. Di hari yang cerah itu, Anisa minta aku mandi bersama di sungai yang rimbun tertutup pohon-pohon besar. Kami mandi berendam, berpelukan, lalu bersenggama lagi. Anisa menuntun ‘Mr. Penny’ku masuk ke ‘Ms. Veggy’nya. Dan di menggoyangkan pinggulnya agar aku merasa nikmat. Aku demikian pula, semakin menekan ‘Mr. Penny’ku masuk kedalam ‘Ms. Veggy’nya.

Di atas batu yang ceper nan besar, Anisa membaringkan diri dengan posisi menantang, dia menguakkan selangkangngannya, ‘Ms. Veggy’nya terbuka lebar, disuruhnya aku menjilati bibir ‘Ms. Veggy’nya hingga klitoris bagian dalam yang ngjendol itu. Dia merasakan nikmat yang luar biasa, lalu disuruhnya aku memasukkan jari tengahku ke dalam lubang ‘Ms. Veggy’nya, dan menekannya dalam-dalam. Mata Anisa merem melek kenikmatan. Tak lama kemudian dia minta aku yang berbaring, ‘Mr. Penny’ku di elus-elus, diciumi, dijilati, lalu diisapnya dengan memainkan lidahnya, Anisa minta agar aku jangan ejakulasi dulu,
“Tahan ya ?” pintanya. ” Jangan dikeluarin lho ?!” pintanya lagi.

Lalu dia menghisap ‘Mr. Penny’ku dalam-dalam. Setelah dia enggak tahan, lalu dia naik diatasku dan memasukkan ‘Mr. Penny’ku di ‘Ms. Veggy’nya, wah, goyangnya hebat sekali, akhirnya dia yang kalah duluan. Anisa mencubiti aku, menjambak rambutku, rupanya dia ” keluar”, dan menjerit kenikmatan, lalu aku menyusul yang “keluar” dan oh,,,,oh…oh….muncratlah air maniku dilubang ‘Ms. Veggy’ Anisa.
“Jahat kamu ?!” kata Anisa seraya menatapku manja dan memukuli aku pelan dan mesra. Aku tersenyum saja. ” Jahat kamu Rangga, aku kalah terus sama kamu ” Ujarnya lagi. Kami sama-sama terkulai lemas diatas batu itu.
Esoknya kami sudah berangkat dari tempat yang tak akan terlupakan itu. Kami memadu janji, bahwa suatu saat nanti kami akan kembali ke tempat itu. Kami pulang dengan mengambil jalan ke desa terdekat dan pergi ke kota terdekat agar tidak bertemu dengan rombongan yang terpisah itu. Dari kota kecil itu kami pulang ke kota kami dengan menyewa Taxi, sepanjang jalan kami berpelukan terus di dalam Taxi. Tak sedikitpun waktu yang kami sia-siakan. Anisa …
menciumi pipiku, bibirku, lalu membisikkan kata

” Aku suka kamu ” Aku juga membalasnya dengan kalimat mesra yang tak kalah indahnya. Dalam dua jam perjalanan itu, tangan dan jari-jari Anisa tak henti-hentinya merogoh celana dalamku, dan memegangi ‘Mr. Penny’ku. Dia tahu aku ejakulasi di dalam celana, bahkan Anisa tetap mengocok-ngocoknya. Aku terus memeluk dia, pak Supir tak ku ijinkan menoleh kami kebelakang, dia setuju saja. Sudah tiga kali aku ” keluar” karena tangan Anisa selalu memainkan ‘Mr. Penny’ku sepanjang perjalanan di Taxi itu.
” Aku lemas sayang ?!” bisikku mesra
” Biarin !” Bisiknya mesra sekali. ” Aku suka kok !” Bisiknya lagi.
Tidak mau ketinggalan aku merogoh celana olah raga yang dipakai Anisa. Astaga, dia tidak pakai celana dalam. Ketika jari-jari tanganku menyolok ‘Ms. Veggy’nya, dia tersenyum, bulunya ku tarik-tarik, dia meringis, dan apa yang terjadi ? astaga lagi, Anisa sudah ‘keluar’ banyak, ‘Ms. Veggy’nya basah oleh semacam lendir, rupanya nafsunya tinggi sekali, becek banget. Tangan kami sama-sama basah oleh cairan kemaluan.

Ketika sampai di rumah Anisa, aku disuruhnya langsung pulang, enggak enak sama tetangga katanya. Dia menyodorkan uang dua lembar lima puluh ribuan, aku menolaknya, biar aku saja yang membayar Taxi itu. Lalu aku pulang.Hari-hari berikutnya di sekolah, hubunganku dengan Anisa guru biologiku, nampak wajar-wajar saja dari luar. Tapi ada satu temanku yang curiga, demikian para guru. Hari-hari selanjutnya selalu bertemu ditempat-tempat khusus seperti hotel diluar kota, di pantai, bahkan pernah dalam suatu liburan kami ke Bali selama 12 hari.
Ketika aku sudah menyelesaikan studiku di SLTA, Anisa minta agar aku tak melupakan kenangan yang pernah kami ukir. Aku diajaknya ke sebuah Hotel disebuah kota, yah seperti perpisahan. Karena aku harus melanjutkan kuliah di Australia, menyusul kakakku. Alangkah sedihnya Anisa malam itu, dia nampak cantik, lembut dan mesra. Tak rela rasanya aku kehilangan Anisa. Kujelaskan semuanya, walau kita beda usia yang cukup mencolok, tapi aku mau menikah dengannya.

Anisa memberikan cincin bermata berlian yang dipakainya kepada aku. Aku memberikan kalung emas bermata zamrud kepada Anisa. Cincin Anisa hanya mampu melingkar di kelingkingku, kalungku langsung dipakainya, setelah dikecupinya. Anisa berencana berhenti menjadi guru, “sakit rasanya” ujarnya kalau terus menjadi guru, karena kehilangan aku. Anisa akan melanjutkan S2 nya di USA, karena keluarganya ada disana. Setelah itu kami berpisah hingga sekian tahun, tanpa kontak lagi.

Pada suatu saat, ada surat undangan pernikahan datang ke Apartemenku, datangnya dari Dra. Anisa Maharani, MSC. Rupanya benar dia menyelesaikan S2 nya.Aku terbang ke Jakarta, karena resepsi itu diadakan di Jakarta disebuah hotel bintang lima. Aku datang bersama kakakku Rina dan Papa. Di pesta itu, ketika aku datang, Anisa tak tahan menahan emosinya, dia menghampiriku ditengah kerumunan orang banya itu dan memelukku erat-erat, lalu menangis sejadi-jadinya.
“Aku rindu kamu Rangga kekasihku, aku sayang kamu, sekian tahun aku kehilangan kamu, andai saja laki-laki disampingku dipelaminan itu adalah kamu, alangkah bahagianya aku ” Kata Anisa lirih dan pelan sambil memelukku.

Kamu jadi perhatian para hadirin, Rina dan Papa saling tatap kebingungan. Ku usap airmata tulus Anisa. Kujelaskan aku sudah selesai S1 dan akan melanjutkan S2 di USA, dan aku berjanji akan membangun laboratorium yang kuberi nama Laboratorium “Anisa”. Dia setuju dan masih menenteskan air mata.

Setelah aku diperkenalkan dengan suaminya, aku minta pamit untuk pulang, akupun tak tahan dengan suasana yang mengharukan ini. Setelah lima tahun tak ada khabar lagi dari dia, aku sudah menikah dan punya anak wanita yang kuberi nama Anisa Maharani, persis nama Anisa. Ku kabari Anisa dan dia datang kerumahku di Bandung, dia juga membawa putranya yang diberi nama Rangga, cuma Rangga berbeda usia tiga tahun dengan Anisa putriku. Aku masih merasakan getaran-getaran aneh di hatiku, tatapan Anisa masih menantang dan panas, senyumnya masih menggoda. Kami sepakat untuk menjodohkan anak kami kelak, jika Tuhan mengijinkannya.
Read More